Akhir-akhir ini aku tergila-gila Tetralogi Laskar Pelangi mulai dari seri Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Tapi sayang, buku terakhir tetralogi pembakar semangat ini masih membutuhkan kesabaran untuk menanti tanggal rilisnya yang masih bulan September. Dan dapat kupastikan bahwa pada tanggal rilis seri terakhir yang berjudul Maryamah Karpov September nanti, pasti langsung ludes diserbu konsumen yang telah lama menunggu seperti singa yang sudah berbulan-bulan tidak makan nasi ha ha iya tapi makan daging. Tapi semoga aku nanti kebagian pas tanggal rilisnya.
Menyebalkan memang saat kita berada dalam kondisi menunggu, tapi terkadang di saat-saat menunggu itu yang seru. Untuk saat ini aku lagi nunggu terbitnya Maryamah Karpov walo sekarang sik April. Yang bikin seru sebenernya ya nebak-nebak kira-kira gimmana ceritanya entar. Tapi satu yang pasti membuatku sebel adalah seharusnya tetralogi ini udah kelar ditulis tapi emang sengaja belum diterbitkan karena menurut mas Ikal yang ngarang ceritanya ada yang crash ato ga sinkron kali ama film Laskar Pelangi entar. What The Hell, jadi ini ceritanya nunggu luaaamaaaa cman gara-gara film, betapa menyebalkan. Keliatan banget dah klo ini gara-gara masalah duit atawa komersialisasi. Sebagai penikmat kita cman bisa mengelus dada n legowo, klo ndak bisa elus aja dada orang laen he he, mau ndak mau harus tunduk ama kepentingan perut. Itulah mungkin mengapa mas Ikal nulis di Novelnya salah satu profesi atao lembaga yang dia benci adalah Penerbit.
Yang bikin nyebelin adalah iya klo filmnya ntar ga molor rilis, lha klo molor rilis waaa penantian bisa semakin panjang. Bisa-bisa ntar keburu dingin semangat laskar pelangi yang keburu membuncah didada. Lagian PeDe banget ntu yang bikin film klo ntar film-nya bakal laku kaya Ayat-Ayat Cinta yang juga diangkat dari novel best seller, alamak. Tapi merujuk pada pernyataan yang nulis novel, mengapa ko mau difilmkan ya oke-oke ajalah, karena ga semua orang suka baca n ga semua bisa akses novel ini, maka dibuatlah filmnya supaya semangat Laskar Pelangi dapat menular dan memperbaiki kondisi pendidikan nusantara yang sedang mati suri. Jadi tidak apa-apalah klo kepentingan nafsu kita sedikit dikekang biar cita-cita Laskar Pelangi merasuki seluruh lapisan masyarakat.
Seperti kebanyakan novel yang diangkat menjadi film, pasti orang atwa masyarakat mencoba membanding-bandingkan novel ma film-nya. Contoh nyatanya ya Harry Potter hasil rekayasa J.K Rowling, menurut pencintanya siy masih lebih bagus novelnya lebih detail. Tapi menurutku pribadi masih bagusan filmnya soalnya aku ga bonafid klo disuruh ngebayangin gimana settingan n karakter Harry Potter maklumlah aku cman sempat baca yg seri ke lima. Untuk urusan dalam negeri kita cuplik aja Ayat-Ayat Cinta nya kang Abik, oke filmnya dibuat memang penuh dengan perjuangan dan berlinang air mata tapi menurut temen-temen gue yang sempat baca novelnya sih masih bagusan novelnya karena nilai-nilai keIslaman yang di NOvel lebih terekspose. Menurutku hal ini wajar karena dimensi film terbatas oleh waktu dan biaya sehingga tidak semua pesan dalam novel atau kisah sesungguhnya dapat terwakili, dari sini dapat ditarik garis yang dikit-dikit pengkor bahwa ada segi bahasa tulisan yang ga dapat diwakili oleh bahasa gambar. Jika diusut lebih jauh pembuatan novel menjadi film apalagi jadi booming and Trend Setter ga jelek-jelek amat ko baik malah, contohnya niy orang yang sebelumnya ga tau novelnya jadi interest pingin baca novelnya n secara sadar atao ga nilai keIslaman dan pesan moral pada Novel Ayat-Ayat Cinta tersampaikan juga toh? Anyway terkait dengan beberapa pesan moral novel yang ga kesampaian di Filmnya, pasti tidak semua pesan moral pada Laskar Pelangi dapat tersampaikan dengan sempurna di Filmnya. Buatku pribadi ga masalah karena aku dah baca novelnya jadi pesan moral di Laskar Pelangi Telah membasahi sisi hati yang meradang kering kerontang tentang semangat yang dulu pernah subur menghijau. Dengan nantinya aku menonton film-nya pasti akan menguatkan semangat Laskar Pelangi di hatiku. Hah terlepas dari pemfilman suatu novel, paling ga nafkah orang-orang yang hidup dari perfilman masih dapat membuat dapur mereka mengepul dan satu harapanku semoga filmnya ntar ga komersil-komersil amat cukup untuk menutup biaya produksi syukur-syukur klo untung besar dapat dishodaqohkan kepada dunia pendidikan Indonesia yang telah dizalimi oleh pengemban amanat konstitusi yang seharusnya 20% dari APBN. Wa Allahu’alam. anyway ko jadi serius geene ya tulisannya padahal pengen bikin kesan yang konyol n ringan. Sekian dulu, wassalam.